“Pasti Ivan yang sengaja menghapusnya dari handphone Android saya supaya saya tidak bisa lagi mendownload aplikasi dari Market.”

Hahaha.. si Justin (apabila ada kesamaan nama tokoh,ini hanyalah kebetulan belaka) menuduh saya yang menghapus aplikasi Android Market dari handphone yang baru dia beli dua hari yang lalu, Samsung Galaxy Amaze Plus E X2 Thunderbolt Pro Maxx. Tadi malam saya memang sempat meminjam handphone barunya tersebut, itupun hanya untuk dijadikan lampu senter di kamar mandi gara-gara di rumah sempat mati lampu selama 2 jam, dan bukan untuk main game atau semacamnya.

Awalnya Justin mengira kalau ada malware atau virus ganas yang menyerang handphone Android nya itu dan menghapus aplikasi Android Market tanpa sepetahuannya; “Van, hape saya kayaknya ada virusnya. Sebelum kamu pinjam di halaman depannya masih ada Market, pas kamu kembalikan tiba-tiba sudah tidak ada.” Sadar karena sudah salah bicara (tidak mau mengaku Androidnya kena virus) tiba-tiba si Justin menarik kata-katanya dan berbalik menuduh saya yang menghapusnya, “Van, kamu apakan handphone saya? Kenapa Market nya bisa hilang? Pasti kamu yang hapus!” OMG!. Perasaan semalam saya cuma aktifkan fitur lampu flashnya saja, tidak masuk ke Market sama sekali, kenapa Marketnya bisa hilang? Saya jadi penasaran.

Lalu saja pinjam hapenya si Justin untuk mengeceknya kembali. Damn! bukan terhapus ternyata, tapi memang Google sudah mengubah nama Android Market jadi Google Play sejak tadi malam. Karena Justin tidak percaya, terpaksa saya suruh baca saja postingan yang baru saya buat tentang Google Play sekalian beberapa artikel hasil pencarian Google supaya dia bisa puas.

Maklumlah, Justin adalah orang yang belum lama pegang smartphone, apalagi yang ber-OS Android. Sewaktu Google melakukan pembaruan aplikasi Android Market untuk mengubah nama dan ikonnya menjadi Google Play, sebenarnya akan muncul notifikasi tentang persetujuan dari user untuk proses pembaruan ini. Dan setiap notifikasi yang muncul itu harus disetujui (tap OK) agar pembaruan bisa diproses. Kalau Justin membaca apa yang tertulis di notifikasi tersebut pasti dia tidak akan panik seperti ini, tapi sayangnya Justin dan kebanyakan orang lainnya mengabaikannya dan langsung saja main klik “Next, Next.. Finish”, paniknya belakangan.

Tapi Justin juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya (maklum, baru pegang Android). Menurut saya, Google harusnya sadar kalau tidak semua user Android itu adalah tech savvy yang melek teknologi yang bisa langsung beradaptasi pada perubahan yang tiba-tiba. Google harusnya memberi pengumuman dulu jauh hari sebelum mengubah Android Market menjadi Google Play. Bisa lewat email langsung ke pengguna, bisa lewat banner sementara pada halaman web Android Market, bisa lewat Facebook atau Twitter, atau sekalian saja sebar berita melalui blog resmi Google untuk Android. Tapi yang terjadi adalah perubahan secara tiba-tiba. Jadi, siapa yang salah? Yang jelas bukan saya :D

Google memang tidak pernah berhenti menghibur kita. Google Play Store, Google Play Book, and now Google Play with U :D

Android Market

Sumber:
[Phandroid]