Starbucks

Pengguna Instagram kini sudah lebih dari 27 juta orang, meningkat dua kali lipat sejak bulan Desember tahun lalu. Walaupun baru diluncurkan sejak 2 tahun yang lalu (Maret 2009) tapi Instagram sudah memiliki pengguna sebanyak itu, padahal aplikasi ini hanya tersedia hanya untuk platform iOS saja. Hebat.

Menurut laporan TechCrunch, Instagram versi Android akan segera diluncurkan. Ini terbukti setelah Co-founder, Kevin Systrom, mendemonstrasikan aplikasi Instagram untuk Android.

He showed off the company’s upcoming Android app. He waved it around very briefly on-stage, but he didn’t give a full demo. (That’s for later, and the company tells us they aren’t totally ready for a walkthrough yet.)

Tentu saja berita ini telah ditunggu-tunggu sejak lama oleh (kebanyakan) pengguna Android, maklum saja karena sebelumnya perusahaan dibelakang Instagram lebih berfokus ke iOS daripada platform lainnya.

Saya punya akun Instagram (ivan90112) tapi saya jarang menggunakannya. Kenapa? karena saya tidak hebat dalam dunia fotografi, saya tidak tahu bagaimana mengambil gambar yang bagus, dan alasan-alasan wajar lainnya. Tapi saya sendiri sebenarnya suka mengambil foto dengan kamera handphone, tapi kalau gambarnya jelek pasti langsung saya hapus. Dan walaupun ada gambar yang menurut saya bagus, saya tidak merasa foto-foto itu layak dipamerkan ke orang-orang lain (kecuali foto-foto lucu yang jarang terjadi :D).

Secara pribadi, Instagram adalah aplikasi yang bagus. Kita bisa membuat hasil foto yang awalnya biasa-biasa saja menjadi unik dengan filter yang tersedia. Istilah kerennya your photos will never be the same again.

Tapi yang sedikit menggangu saya adalah banyak orang yang hanya dengan menggunakan filter kemudian mengklaim kalau hasil fotonya itu adalah foto yang bagus. Jalan-jalan ke Starbucks, pesan kopi terus cup nya di foto pakai Instagram + filter retro. Setelah itu di upload ke Twitter atau Facebook lalu “hei lihat foto ini, keren bukan?”

Saya punya teman yang baru belajar fotografi. Walau masih baru, tapi dia cukup senang untuk terus belajar dan mengasah calon bakatnya itu. Tiap akhir pekan dia selalu hunting dengan teman-teman se-geng nya untuk motret. Tapi sayangnya, sekarang teman saya itu sudah malas hunting gara-gara, apalagi kalau bukan Instagram.

Banyak pemula yang mulai malas untuk belajar serius di bidang fotografi hanya karena mereka menemukan cara yang lebih instant untuk mengambil gambar cup Starbucks yang bagus (betul-betul bagus), yaitu menggunakan Instagram dan aplikasi sejenisnya.

Bukannya untuk terus belajar dan memperdalam ilmu di bidang fotografi, banyak orang yang mengaku fotografer yang cuma mengeluarkan iPhone (contoh handphone berkamera), mengambil foto sepatu Converse yang robek-robek, menerapkan filter lalu menguploadnya. Dan dalam waktu kurang dari 5 menit (kalau selebritis biasanya kurang dari itu) jumlah like nya sudah mencapai ratusan. Oh God, why? Inikah tipe orang-orang yang menyebut dirinya fotografer handal?

Kalau digunakan dengan benar, Instagram bisa berguna untuk meningkatkan kualitas gambar. Maksudnya adalah foto yang bagus bisa dibuat lebih bagus lagi, bukan untuk membuat foto cup Starbuck menjadi foto senilai jutaan dollar.

Buat para fotografer profesional, tolong bimbinglah murid-murid mu. Jauhkanlah mereka dari tukang sihir yang bisa mengubah orang menjadi fotografer handal dalam kurang dari 10 menit. Dan juga janganlah marah kepada mereka-mereka itu (fotografer handal) karena hasil karya kalian pasti jauh lebih baik.

Oh iya, semakin banyak pengguna Instagram (ceritanya pengguna Android sudah bergabung) artinya semakin banyak foto cup Starbucks dong? Kayaknya sih begitu.