Ubuntu

Canonical menyediakan Ubuntu versi LTS (Long Term Support) yang dirilis setiap dua tahun sekali. Sebagian orang menganggap versi LTS ini adalah versi “final”, sedangkan versi biasa atau standar, yang dirilis tiap enam bulan sekali (April dan Oktober) adalah versi “beta”.

Sebagai pengguna Ubuntu 12.04 LTS (yup, saya malas untuk upgrade ke 12.10) saya paham kenapa versi standar bisa dikatakan sebagai versi “beta”. Entah, mungkin ini hanya berlaku untuk saya saja, tidak semua rilis standar Ubuntu bisa terinstall dengan baik di laptop saya. Itulah sebabnya mengapa sebagian pengguna Ubuntu (termasuk saya) menganggap versi standar ini adalah versi yang tidak stabil, alias “beta”.

Saat ini Canonical masih menerapkan sistem rilis enam bulan sekali untuk Ubuntu. Versi standar akan menerima support selama 18 bulan setelah dirilis, sedangkan versi LTS dan Ubuntu server akan menerima support selama 5 tahun. Ini artinya, ada tiga rilis standar yang akan “mati” sebelum support untuk versi LTS dihentikan oleh Canonical.

Namun, baru-baru ini muncul kabar bahwa Ubuntu bisa jadi menerapkan sistem rolling release setelah Leann Ogasawara, manajer tim kernel Canonial mendiskusikan ide ini di Google+ Hangout pada sesi Ubuntu On Air.

The plan was by 14.04 to target what we’re calling a rolling release and go from an LTS to LTS only model and eliminate these intermediate releases. That was being discussed earlier, we didn’t set anything in stone but that’s still in the cards as a possibility of happening when we hit the next 14.04 release so it could go from 14.04 to 16.04 and everything in between is what they consider a rolling release.

Leann Ogasawara

Mengenai berita ini, Jono Bacon selaku manajer komunitas Ubuntu memberi tanggapannya:

Just to be clear, for a while now we have been discussing ‘the road to 14.04’ which is a set of things we need to do to continue to improve the engineering and end user quality of Ubuntu, make things more efficient, empower our flavors better, and give us the flexibility for future decisions, such as if we did want to explore a rolling release.

Jono Bacon via Reddit

dan menambahkan:

Speaking personally (and not from the perspective of Canonical), I would like to get rid of the interim releases and just focus on LTSs. I think the interim releases suck up more releases than they should, and we could focus these resources on a rolling release.

If we did do a rolling release, I agree that it would be better to simply offer LTS for stable releases and rolling for people who want newer software without the support period for SRUs.

Jono Bacon via Reddit

Intinya adalah, ada kemungkinan Ubuntu menjadi distro rolling release (update berlanjut) dan yang difokuskan adalah rilis antara LTS ke LTS saja. Misalnya, dari 14.04 ke 16.04. Dengan begini, versi standar akan dihilangkan.

Debian

Berbicara mengenai rolling release, kita tidak bisa melupakan Debian, distro yang melahirkan Ubuntu dan Linux Mint (LMDE).

Di Debian kita mengenal adanya Debian Stable (stabil) dan Unstable (kurang stabil). Versi Unstable mendapatkan update yang lebih cepat. Sedangkan versi Stable mendapatkan update belakangan tetapi telah teruji dengan cukup baik. Kerena itu, beberapa distro rolling release memiliki jadwal rilis yang berbeda-beda, ada yang terlalu sering, dan ada yang cukup lama demi mendapatkan status Stable sehingga layak untuk dirilis ke publik.

Lebih lanjut lagi, perdebatan mengenai keuntungan dan kelemahan dari distro dengan model rolling release sudah ada sejak lama.

Salah satu keuntungan terbesar dari distro rolling release adalah, pengguna tidak perlu lagi mendownload file installer (ISO) seukuran CD/DVD setiap enam bulan. Keuntungan lainnya, pengguna bisa mendapatkan fitur-fitur terbaru dan sisi keamanan yang lebih ditingkatkan. Tidak perlu lagi repot-repot mengkonfigurasi audio, Wi-Fi dan hal lainnya setiap kali proses instalasi selesai. Tidak ada lagi frustasi yang muncul setiap kali ada hardware yang tidak kompatibel dengan driver propietary.

Sebaliknya, kelemahan terbesarnya adalah distro dengan model rolling release menjadi kurang stabil (unstable) karena minimnya waktu uji coba dibandingkan dengan rilis standar. Kecuali, Canonical bisa menangani masalah ini pada rilis LTS-to-LTS yang dirilis setiap dua tahun.

Mempertahankan stabilitas dan menyediakan fitur-fitur terbaru adalah dua hal yang tidak mudah didapatkan, apalagi dengan model rolling release. Oleh karena itu saya pikir metode rilis Ubuntu saat ini (standar + LTS) sudah cukup menyeimbangkan keduanya. Ubuntu memberikan fitur-fitur terbaru pada rilis standar, dan memberikan stabilitas pada rilis LTS. Dan inilah alasannya mengapa saya masih bertahan menggunakan Ubuntu LTS.

Yang jelas, belum ada keputusan final apakah Ubuntu akan menjadi distro rolling release atau tetap bertahan dengan model standar + LTS seperti sekarang ini. Kita hanya bisa membayangkan akan jadi seperti apa Ubuntu nantinya melalui distro-distro rolling release yang sudah ada sekarang.

Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda setuju jika Ubuntu menjadi distro rolling release? Atau Anda lebih memilih Ubuntu tetap seperti sekarang, yang versi terbarunya dirilis setiap enam bulan? Atau mungkin Anda penasaran dengan distro rolling release dan tidak sabar menunggu Canonical mengimplementasikannya? Kita tunggu saja informasi resmi dari Canonical :)

Sumber:
[WebUpd8]