Dalam sebuah postingan blog, Amy Worrall menjelaskan idenya tentang konsep trial mode pada App Store:

Developers can choose whether to allow a trial of 1, 7 or 30 days, or to disallow trials all together, on a per-app basis. For those apps that allow trials, the App Store would show a “Try for 7 days” button alongside “Buy app”.

Saya yakin akan banyak orang yang setuju kalau Apple mengimplementasikan sistem trial pada App Store, baik itu sistemnya seperti Google Play yang cuma 15 menit ataupun seperti Windows Store yang bisa bermacam metode, misalnya limitasi fitur, munculkan banner/watermarks, dsb.

Yang penting trial. Karena sepengamatan saya selama ini, penyakit masyarakat Indonesia kebanyakan kalau ditanya kenapa masih install apps bajakan adalah karena “mau coba dulu, nanti kalau suka/bagus baru dibeli” dan semacamnya.

Tapi, apakah sistem trial betul-betul solusi dari pembajakan? Apakah mereka-mereka ini akan berhenti membajak kalau sistem trial sudah diterapkan pada App Store?

Sepertinya tidak.

Memanfaatkan DRM dan teknologi semacamnya untuk mencegah pembajakan dinilai tidak efektif oleh Paul Griffin (@phoenixdev), salah satu developer apps/tweaks Cydia yang dikenal dengan Music Controls Pro-nya.

Pengalaman Paul Griffin tentang konsep trial mode untuk melawan pembajakan:

  • Dari 100 percobaan pembajakan, hanya ada 1 yang berujung pada pembelian. “Mencoba sebelum membeli” hanyalah omong kosong belaka.
  • Dari 15 pengguna trial, hanya ada 1 pengguna yang melakukan pembelian.
  • Sebagian besar pengguna trial akan melakukan pembelian dalam waktu kurang dari 24 jam. Jika trial mode sudah berjalan lebih dari 10 hari, ujung-ujungnya si pengguna tidak akan melakukan pembelian.
  • Mengimplementasikan sistem pencegahan pembajakan sangatlah sulit. Semakin kuat pertahanannya dan semakin populer sebuah apps/tweaks maka akan semakin banyak hacker-hacker yang akan mencoba untuk membobol atau meng-cracknya.
  • Menerapkan sistem trial dengan timer justru akan menjadi celah baru bagi para hacker untuk membajaknya. Misalnya dengan membypass timer tersebut, atau memperpanjang waktu trial menjadi tidak terbatas.

Bukannya tidak mau percaya lagi, tapi, menurut perbandingan pembeli asli (yang sudah melalui masa trial) dan pembajak seperti yang dijelaskan oleh Paul Griffin, sepertinya benar, alasan “mencoba sebelum membeli” hanyalah omong kosong belaka.

Ada sistem trial atau tidak, tidak ada bedanya. Kebiasaan membajak tidak akan mudah hilang walaupun konsep trial mode sudah diterapkan.