Saya senang membaca tulisan dari orang-orang yang menceritakan pengalamannya menggunakan satu platform hingga bagaimana ia berpindah ke platform lain karena alasan-alasan tertentu. Entah itu dari Windows Phone ke iOS, ataupun sebaliknya.

Ada yang pindah ke iOS karena memang suka dengan iOS atau ekosistem Apple, dan ada juga yang pindah dari iOS karena adanya kekurangan pada iOS. Apapun itu, pasti ada alasannya. Dan biasanya ada cerita menarik dari mereka yang berpindah tersebut.

Salah satu kisah kepindahan yang baru-baru ini jadi populer adalah tentang Andreas Goeldi yang berpindah dari iOS. Alasannya? Karena ia sangat meyakini satu teori, bahwa efek “frosted glass” pada iOS 7 adalah efek visual yang tidak ada gunanya, dan sebenarnya hanya menutupi kekurangan Apple yang sudah berhenti berinovasi.

When a technology vendor can’t keep up with the speed of innovation anymore, it resorts to incrementally copying other’s innovations and starts adding pointless visual gimmicks, such as frosted glass effects. Such effects are cool, set your product apart, make it look modern, but unfortunately they are also entirely useless and just consume system resources without really improving the user experience.

Dan untuk mendukung teorinya tersebut, Andreas Goeldi menyamakan iOS 7 dengan Windows Vista. Menurutnya, iOS 7 memiliki kesamaan dengan Windows Vista, yaitu sama-sama memiliki efek transparant.

Andreas Goeldi berpendapat bahwa Windows Vista gagal karena Microsoft pada waktu itu sudah sampai pada puncaknya, sudah berhenti berinovasi. Dan Apple yang juga memperkenalkan efek serupa pada iOS 7 dianggap akan bernasib sama dengan Windows Vista.

Hmm…

Kalau Windows Vista gagal, lalu kenapa banyak orang yang suka dengan Windows 7? Kenapa Windows 7 sukses? Padahal sama-sama ber-“frosted glass”.

Tebakan saya adalah… Kegagalan Windows Vista bukan disebabkan karena frosted glass-nya. Jadi kalau begitu… iOS 7 != Vista.

Bagaimana menurut Anda?