iOS 7 multitasking

Not true, but “smart multitasking”.

Bagi Anda pengguna Android, saya sarankan membaca satu artikel aka postingan menarik yang saya temukan di halaman depan Kaskus atau yang lebih dikenal sebagai “Hot Threads”:

Hati2 Menggunakan Fitur “Task Killer” Pada Smartphone Android Anda !!

Isi tulisannya adalah tentang bagaimana pengelolaan memori di Android. Cukup panjang tapi juga mudah dimengerti.

Soal task killer, saya setuju dengan original poster (OP). Android memang tidak butuh aplikasi “task killer”. Dan memang, ada banyak aplikasi sejenis di Android Market/Google Play Store, tapi bukan berarti kalau Android butuh aplikasi semacam itu.

Keberadaan aplikasi task killer atau-apapun-namanya di Google Play Store hanya membuat kesan bahwa Android membutuhkan bantuan task killer untuk mengelola memorinya, padahal tidak. Seandainya bisa, mungkin para developer Android di Google akan menghapuskan semua aplikasi task killer biar tidak ada lagi orang yang berpikir kalau aplikasi-aplikasi tersebut dibutuhkan.

Dan secara umum, menurut saya penjelasan tentang task killer di Android ini sifatnya netral, maksudnya adalah tulisannya boleh juga dibaca dan dipahami oleh pengguna iDevice (dan saya akan membuat satu nanti :) ).

Tapi, satu hal… :shoot:

Ketika Anda meninggalkan suatu aplikasi, aplikasi juga diijinkan untuk menjaga agar proses yang berjalan di background (true multitasking) yang memungkinkan untuk melanjutkan melakukan pekerjaan apapun yang perlu dilakukan.

Sewaktu membandingkan fitur multitasking antar platform, entah mengapa para fandroid selalu merujuk ke istilah “true multitasking” sebagai model multitasking dari Android, seakan-akan Android itu sinonim dari “true multitasking” (oh yeah, meskipun si OP dengan terang-terangan menulis Android adalah sistem operasi multitasking. LOL).

Bahkan si OP menggunakan istilah “main multitasking” untuk iOS yang saya sendiri bingung, dari mana istilah itu berasal?:

Ketika Android tidak menutup aplikasi sendiri untuk membebaskan memori, dengan cara yang sangat pintar Android akan membuka aplikasi yang sudah ditutup, ia akan mengembalikannya seakan-akan tidak pernah ditutup sama sekali (ini sebenarnya mirip dengan apa disebut oleh IOS ‘main multitasking’).

Android = true multitasking, iOS = “main multitasking”.

Mkay, As you wish :)

iOS dengan sangat pintar mematikan aplikasi jika dibutuhkan? Check.

Apakah iOS dengan sangat pintar bisa membangkitkan kembali aplikasi dari background seakan-akan belum/tidak pernah ditutup sama sekali? Check.

Di iDevice tidak terdapat “tombol keluar”? Check.

iOS dirancang untuk user-yang-tidak-butuh-menutup-aplikasi? Check.

Aplikasi iOS yang tidak aktif atau berjalan di background tidak menggunakan CPU atau menguras baterai? Check.

Jadi?

Dengan tulisan sepanjang itu saya heran kenapa belum ada definisi yang jelas tentang multitasking dari OP (dan tolong jelaskan apa itu “main multitasking”).

Kecuali, kalau yang dimaksud dengan “true multitasking” adalah kemampuan untuk “menjaga agar proses berjalan di background” plus dengan poin-poin yang sudah saya sebutkan di atas, maka saya rasa OP tidak perlu melekatkan label “main multitasking” ke iOS karena menurut definisi itu saja, iOS juga sudah true multitasking.

Disappointed?

Satu hal yang mungkin membedakan antara Android dan iOS dari sisi multitasking adalah, pada Android, background tasks/apps lebih bebas. Sedangkan pada iOS, Apple sudah menetapkan process/service dengan kategori tertentu saja yang punya prioritas lebih tinggi dibanding lainnya (selengkapnya).

Atau dengan kata lain, multitasking di iOS lebih smart dibanding Android. Tetapi kita tidak usah menciptakan istilah baru, “smart multitasking”. Mungkin ada yang kurang setuju, karena kesannya fitur multitasking di iOS jadi lebih unggul dibanding fitur multitasking pada platform yang satunya.

BTW…

Multitasking pada sistem operasi mobile disebut dengan “mobile multitasking”. Anda menjalankan sebuah aplikasi, maka aplikasinya akan berjalan (dengan layar penuh) di layar smartphone Anda, berikut process-process yang terkait di background. Anda menjalankan aplikasi lain, maka aplikasi pertama akan ke belakang dan aplikasi yang baru akan ke depan memenuhi layar. Bergantian.

Pada “traditional multitasking” beda lagi. Ini seperti multitasking pada sistem operasi desktop. Pengguna punya kebebasan penuh terhadap aplikasi atau process yang berjalan. Sekali sebuah aplikasi dijalankan, maka process nya akan berjalan terus menerus. Aplikasinya tidak akan berhenti sampai ditutup atau dihentikan sendiri oleh pengguna, atau quit process dari task manager, atau di-shutdown langsung oleh penggunanya.

Pada sistem operasi mobile seperti iOS dan Android, aplikasi tidak perlu ditutup secara manual oleh penggunanya. Intinya, pengguna menjalankan aplikasi, dan sistem operasi yang akan mengurus sisanya (memori, dll).