Apple CEO Steve Jobs introduces the new Apple iPhone

Anda boleh tidak suka dengan Apple ataupun iPhone, tapi Anda tidak bisa menyangkal bahwa iPhone lah yang merevolusi industri smartphone ketika diperkenalkan pertama kali pada tahun 2007. Tanpa iPhone, model smartphone yang Anda miliki saat ini mungkin akan berbeda dengan yang trend sekarang.

Android yang merupakan pesaing terbesar dari iOS, sistem operasi mobile yang berjalan di iPhone bisa saja menjadi platform mobile terbesar di dunia. Tapi sebenarnya, tanpa iPhone Android tidak akan sebesar sekarang. Tahukah Anda, Android yang dirancang Google pada tahun 2005 dulu cukup berbeda dengan yang Anda lihat sekarang, atau setidaknya dengan yang pertama kali diperkenalkan? Faktanya, Google terpaksa merancang ulang Android karena iPhone.

Steve Jobs memperkenalkan iPhone

Steve Jobs memperkenalkan iPhone pada ajang MacWorld Conference & Expo di San Francisco, 9 Januari 2007. (AP Photo/Paul Sakuma).

Pada saat iPhone diperkenalkan oleh Steve Jobs pada ajang MacWorld tahun 2007 lalu, Google telah mengerjakan Android sejak dua tahun sebelumnya. Proyek Android dikerjakan oleh setidaknya lebih dari 40 orang engineer, dengan jam kerja 60 sampai 80 jam seminggu selama 15 bulan hingga dua tahun.

Dilaporkan dari The Atlantic:

By January 2007, they’d all worked sixty-to-eighty-hour weeks for fifteen months—some for more than two years—writing and testing code, negotiating soft­ware licenses, and flying all over the world to find the right parts, suppliers, and manufacturers.

Bahkan prototype untuk proyek (Android) tersebut sudah jadi dan sudah siap untuk diperkenalkan pada akhir tahun, hingga kemudian Steve Jobs memperkenalkan iPhone ke seluruh dunia…

Dan Android pun menjadi ketinggalan jaman.

Chris DeSalvo yang merupakan seorang engineer Google bahkan mengungkapkan kekagumannya:

Chris DeSalvo’s reaction to the iPhone was immediate and visceral. “As a consumer I was blown away. I wanted one immediately. But as a Google engineer, I thought ‘We’re going to have to start over.'”

Kalau boleh saya tulis ulang, tanggapan DeSalvo kira-kira seperti ini: Sebagai konsumen saya terpesona dan saya ingin memilikinya. Tapi karena saya adalah seorang engineer Google, sepertinya kita harus memulai (Android) dari awal.

Ya, mereka (Google) harus memulainya kembali karena setelah iPhone muncul, Android mereka tampak seperti produk tahun 90an. Dan itu adalah pendapat DeSalvo sendiri, FYI.

iPhone mengubah industri smartphone, yang awalnya dipenuhi dengan benda-bisa-menelepon berlayar sentuh resistive, ber-keyboard fisik, tebal, layar kecil, menjadi… well, seperti yang bisa Anda lihat sekarang ini; tipis, layar lebar, capasitive, tanpa keyboard fisik.

Kenal Andy Rubi (@Arubin)? Dia adalah salah satu pendiri Android Inc., pencipta Android, dan juga orang yang dulu menjabat sebagai Senior Vice President di Google (setelah Google membeli Android Inc.) yang menangani proyek Android. Di hari yang sama saat Steve Jobs memperkenalkan iPhone di ajang Macworld, Andy Rubin sedang berada di Las Vegas untuk menghadiri sebuah pertemuan. Dalam perjalanannya, Andy Rubin sangat takjub dengan apa yang dia lihat, dia bahkan menyuruh supirnya untuk menepi agar dia bisa menyaksikan presentasi Steve Jobs sampai selesai.

Reaksi Andy Rubin?

“Holy crap, I guess we’re not going to ship that phone.” Kata Andy Rubin kepada koleganya.

Prototype Sooner

Prototype Sooner, Android yang dibunuh iPhone sebelum sempat diluncurkan.

Apa yang dikerjakan oleh Andy Rubin dan tim Android lainnya bernama “Sooner”, alias HTC EXCA300. Dibanding iPhone, Sooner memang punya fitur unggul daripada iPhone pada saat itu. Sooner bisa multitasking, dan bisa menjalankan aplikasi-aplikasi web dan layanan Google termasuk YouTube dan Maps. Tapi Sooner jelek. Sooner adalah smartphone ber-keyboard fisik mirip BlackBerry, yang bagian depan bodinya dibagi antara keyboard dan layar. Sooner bahkan tidak mendukung touchscreen.

Faktanya, pada mulanya Android memang tidak mendukung touchscreen:

Dilaporkan dari Re/code:

“Touchscreens will not be supported,” Google said in a 2006 specification for Android devices.

Andy Rubin dan timnya yakin bahwa konsumen akan lebih mementingkan isinya (software) dibanding penampilan luarnya.

Rubin and his team, along with partners HTC and T-Mobile, believed consumers would care more about the great software it contained than its looks

Tapi, iPhone bukan hanya indah pada penampilannya saja, tetapi softwarenya juga dirancang dengan sangat menarik yang membuat pengalaman penggunaan konsumen akan sangat berbeda dibanding smartphone lainnya.

Steve Jobs memperkenalkan iPhone

Steve Jobs saat mendemokan keyboard virtual iPhone.

Bagi tim Android, desain revolusioner seperti iPhone itu tidak mungkin bisa dilakukan, atau sangat beresiko. Andy Rubin dan tim percaya bahwa pengguna akan kesulitan mengetik di layar iPhone. Tapi mereka salah, karena iPhone memiliki software yang dirancang khusus untuk menerima sentuhan jari, bukan stylus atau tombol/keyboard khusus. Dan tidak ada masalah dengan itu.

“We knew that Apple was going to announce a phone. Everyone knew that. We just didn’t think it would be that good,” said Ethan Beard, one of Android’s early business development executives.

HTC Dream

HTC Dream (tengah) dan Sooner via XDA Developers.

Dalam beberapa minggu, tim Android berpindah fokus dari Sooner untuk membangun ulang proyeknya yang kemudian melahirkan sebuah perangkat dengan codename Dream. Dream sangat berbeda dengan Sooner/BlackBerry. Dream adalah perangkat dengan layar sentuh yang cukup lebar, yang juga masih dilengkapi dengan keyboard fisik yang muncul ketika layarnya digeser ke samping. Selain keyboard, Dream juga dilengkapi dengan tombol fisik di bawah layar, dan sebuah… trackball untuk kontrol. Dream juga sudah mendukung multitouch, meski belum sebaik iPhone. Mengapa? Karena hardware Dream sendiri sudah mendukungnya, tetapi software di dalamnya belum dipersiapkan secara penuh untuk multitouch. Android baru mendukung multitouch pada versi 2.0 untuk pengetikan di layar (Android virtual keyboard) yang diluncurkan pada akhir tahun 2009.

T-Mobile G1 atau HTC Dream diluncurkan HTC pada Oktober 2008 sebagai jawaban Google atas iPhone. Dan tak dapat disangkal lagi, Dream adalah Sooner yang kena “iPhone effect”.

Engineers started drilling into it all the things the iPhone didn’t do to differentiate their phone when launch day did occur.

Memang, proyek Sooner telah dikerjakan sebelum iPhone diperkenalkan. Kemudian iPhone muncul, dan Google dengan segera menyadari potensi iPhone dan segera bereaksi dengan membuat sesuatu yang mirip iPhone tetapi tetap berusaha dengan membuatnya berbeda.

Di saat RIM, Microsoft dan Nokia hanya bingung saja dan menganggap iPhone bukan apa-apa, Google telah membuat keputusan tepat dengan meniru iPhone.