Saya baru saja membacanya, dan dari semua artikel “10 years of Ubuntu” yang pernah saya baca, artikel dari Ars Technica ini adalah yang terbaik menurut saya.

Fans Ubuntu, wajib baca.

In October of 2004, a new Linux distro appeared on the scene with a curious name—Ubuntu. Even then there were hundreds, today if not thousands, of different Linux distros available. A new one wasn’t particularly unusual, and for some time after its quiet preview announcement, Ubuntu went largely unnoticed. It was yet another Debian derivative.

Saya belum pakai GNU/Linux di waktu itu, tapi bisa saya bayangkan kondisi saat itu, bagaimana sebuah distro pendatang baru yang muncul di tengah-tengah distro lain.

Ubuntu was started by Mark Shuttleworth, who sold his company Thawte to VeriSign in December 1999 for $575 million. After a short vacation in space, he founded Canonical Ltd and started work on Ubuntu.

Ya, ini salah satu “Ubuntu story” yang tidak boleh dilewatkan. Biasanya ini diceritakan kepada pengguna atau calon pengguna Ubuntu pada event-event seputar Ubuntu (release party, dll)…

Mark Shuttleworth adalah developer Debian,
Mark Shuttleworth adalah pendiri Canonical Ltd, perusahaan yang mengembangkan Ubuntu,
Mark Shuttleworth punya hobi traveling ke ruang angkasa,
… dan faktanya Mark adalah orang kedua di dunia yang melakukan perjalanan ke ruang angkasa dengan menggunakan uang pribadinya sendiri (2002),
Mark Shuttleworth mendirikan Ubuntu Foundation untuk membuat proyek Ubuntu, dengan nilai investasi 10 juta Dollar.
Dsb..

Its emphasis on newcomers also meant that Ubuntu valued tools experienced Linux users did not, namely graphical installers, well-polished themes, and design details like font rendering. Ubuntu’s designers sweated details about anti-aliasing that previously (seemingly) were never considered in the Linux desktop world.

Saya baru tahu kalau font rendering di Ubuntu sudah terkenal dari dulu.

It’s hasn’t been a perfect ten years, but it’s difficult to imagine where Linux would be today without Ubuntu. When it debuted in 2004, the most popular desktop was KDE 3.5, the default theme of which looked like a sad clone of Windows 95. Ten years later, Linux is everywhere you look, and most often it’s Ubuntu Linux that you see.

Akhirnya, setelah 10 tahun kemudian… Ubuntu sudah masuk ke rumah-rumah dan sekolah-sekolah.