Remix OS di MacBook Air

Remix OS adalah sebuah sistem operasi desktop yang menyajikan antarmuka Android. Remix OS pada dasarnya adalah Android yang dikembangkan dari Android-x86 yang merupakan hasil fork atau hasil modifikasi dari Android untuk platform x86/PC.

Sejak diperkenalkan beberapa minggu yang lalu pada ajang CES 2016, Remix OS (2.0) langsung mencuri perhatian banyak orang, selain karena tampilannya yang cukup menarik ala Android 5.1.1 Lollipop di smartphone/tablet Remix OS juga dianggap sebagai alternatif dari Chrome OS yang dapat berjalan pada komputer dengan spesifikasi yang minimum.

Setelah beberapa minggu mencoba Remix OS 2.0 secara live dari USB flashdisk di MacBook Air, saya cuma bisa bilang kalau Remix OS itu lumayan.

Saya sudah mencobanya mulai dari versi bocoran paling awal yang beredar beberapa hari sebelum perluncuran resminya, sempat juga mencoba versi copy langsung dari mesin yang dipamerkan di CES 2016 beberapa waktu lalu. Saya hanya belum sempat mencoba versi rilis resminya (12 Januari), karena beberapa alasan.

Secara tampilan, Remix OS ini memang clean dan minimalis. Bagaikan versi mini dari Windows yang dipasangi tema Android. Ada tombol Start, ada taskbar, bar notifikasi, panel notifikasi, tombol close, minimize, maximize, aplikasi fullscreen, side-by-side dan lain sebagainya. Bagi pengguna smartphone/tablet pasti akan langsung terbiasa, dan begitupun bagi pengguna desktop, akan merasa familiar dengan segala elemen desktop walaupun dari sisi tampilan sangat mirip Android di smartphone/tablet.

Dari sisi performa, ceritanya lain lagi. Remix OS yang digandang-gadang sebagai sistem operasi desktop yang ramah (baca: user friendly) ini tidak benar-benar ramah. Remix 2.0 yang resmi beredar saat ini bahkan belum memasuki tahap beta, tetapi masih alpha. Itu artinya Remix OS 2.0 saat ini sangat tidak stabil dan memang hanya ditujukan bagi para developer yang level tolerensinya terhadap crashing cukup tinggi. Bagi pengguna awam yang mau pakai silakan, tapi jangan lebih dari 20 menit, jangan menjalankan lebih dari 3 aplikasi sekaligus.

Secara keseluruhan Remix OS ini berjalan cukup cepat di MacBook Air yang saya uji. Mungkin itu adalah sisi positif dari menggunakan komputer bagus dan USB flashdisk yang sesuai dan bahkan di atas spesifikasi yang dianjurkan. Tapi sayangnya selain dari itu performa aplikasi sangat parah. Sering crash, jendela program seringkali terlambat muncul, taskbar-nya kadang tidak berguna untuk berpindah-pindah aplikasi.

Buat yang mau coba Remix OS, jangan terlalu berharap banyak untuk saat ini. Saya sendiri sebenarnya ngefans berat dengan sistem operasi ini yang kata orang adalah distro Linux paling “user friendly”. Tapi Remix OS belum benar-benar siap untuk menandingi apa-apa. Versi resminya masih belum menyertakan Google Play secara bawaan. Untuk mendapatkan Google Play Store harus dimasukkan secara manual. Selain itu juga masih banyak aplikasi Play Store yang belum kompatibel. Driver-nya juga masih terbatas sehingga cukup banyak pengguna yang belum bisa mencoba Remix OS di komputer mereka, terutama pengguna komputer 32-bit.

Jadi, kalau cuma buat bersenang-senang atau iseng-iseng saja, tidak ada salahnya mencoba Remix OS. Tapi kalau mau full time, sebaiknya jangan dulu.