New type of auto-rooting Android adware is nearly impossible to remove

Dikutip dari Ars Technica:

The researchers have found more than 20,000 samples of trojanized apps that repackage the code or other features found in official apps available in Google Play and then are posted to third-party markets. From the end user’s perspective, the modified apps look just like the legitimate apps, and in many cases they provide the same functionality and experience. Behind the scenes, however, the apps use powerful exploits that gain root access to the Android operating system. The exploits—found in three app families known as Shedun, Shuanet, and ShiftyBug—allow the trojanized apps to install themselves as system applications, a highly privileged status that’s usually reserved only for operating system-level processes.

Ahem… “Don’t bother with anti-virus

iOS 9 untethered jailbreak (videos)

Hacker iOS @iH8sn0w menunjukkan jailbreak iOS 9 pada iPhone 5 miliknya…

Belum ada kepastian apakah jailbreaknya akan dirilis, atau kapankah waktunya. Tapi dari pengalaman sebelumnya, @iH8sn0w termasuk jarang merilis jailbreak. Salah satu alasannya adalah karena celah keamanan yang dia gunakan untuk jailbreak adalah temunannya sendiri yang katanya sangat berharga dan tidak akan dipublikasikan.

Btw, setidaknya ini adalah tanda kalau jailbreak belum akan berhenti di 8.4, benar?

Mycroft: An Open Source Artificial Intelligence

Mycroft is the world’s first open source, open hardware home A.I. platform. It is a state of the art A.I. based on Raspberry Pi 2 and Arduino – two of the world’s most popular open development platforms.

Mycroft uses natural language processing to respond to your voice. It makes online services like YouTube, Netflix, Pandora, Spotify and others available to you instantly. No need to pull out your smart phone, log in, select a network, load an app and hunt down a feature. Want to hear great music? Say “Mycroft, play ‘Uptown Funk’ from YouTube on my Chromecast” and seconds later your video begins to play.



Saya suka bagaimana Samsung merespon komplain pengguna mengenai design flaw yang ada pada Galaxy Note 5:

“We highly recommend our Galaxy Note5 users follow the instructions in the user guide to ensure they do not experience such an unexpected scenario caused by reinserting the S pen in the other way around.”

Jawaban yang bagus!

Samsung smart fridge leaves Gmail logins open to attack

Dikutip dari The Register:

…While the fridge implements SSL, it fails to validate SSL certificates, thereby enabling man-in-the-middle attacks against most connections.

The internet-connected device is designed to download Gmail Calendar information to an on-screen display. Security shortcomings mean that hackers who manage to jump on to the same network can potentially steal Google login credentials from their neighbours.

*Ke rumah teman*

“Bro, kulkas Samsung mu masih nyala?”


“Konek ke Internet gak?”

“Iya, memangnya kenapa sih kamu tiba-tiba nanya soal kulkas, haus ya?

“Itu… kulkasmu harus diupdate tuh, ada celah ke manan besar yang baru saja diberitakan”

“2016 Flagship Killer”

Wow, Android Police (blog teknologi yang fokus ke Android) rupanya “putus” dengan OnePlus gara-gara artikel yang dipublikasikan Android Police (AP) mengenai OnePlus 2:

That is a point I’d like to highlight, actually: OnePlus can only succeed at these lower price points where they aren’t actually forced to directly compete with the likes of Apple, Samsung, or HTC’s newest high-end phones. They can stay in the mid-range price tier with high-end-esque specifications like a big fish in a small pond, but they know full-well they’d be eaten alive in Lake Flagship. So, instead, they yell absurd and foolish things from the safety of their insulated price point, attempting to convince passersby that they’re the real deal. And clearly, it works to some extent: consumers love nothing more than to be told that they’re not only smart for saving money compared to “everybody else,” but that they’re actually better than other people for making that decision. It’s like you’re in a special club.

Singkat cerita, OnePlus memasang slogan “2016 Flagship Killer” untuk memasarkan OnePlus 2, flagship terbaru dari OnePlus yang dipromosikan sebagai “pembunuh” flagship di tahun 2016.

Kemudian setelah di-review, ternyata AP tidak puas dengan OnePlus 2 dan akhirnya memuat editorial yang pada dasarnya mengatakan bahwa OnePlus sudah berbohong ke publik dengan slogannya tersebut.

OnePlus (tentu saja) tidak setuju dengan editorial tersebut dan menganggap kalau AP “not getting it” alias tidak paham dengan OnePlus 2.

OnePlus menekankan bahwa “specs doesn’t matter”, spesifikasi bukanlah segalanya.

AP tidak peduli dan menganggap kalau itu omong kosong. Si penulis merasa kalau cara untuk “membunuh” flagship adalah dengan cara menyamai atau malah mengalahkan spesifikasi flagship yang ada. OnePlus dianggap tidak mengalahkan spec dari flagship yang ada saat ini, oleh karena itu “2016 Flagship Killer” adalah kebohongan.

Akhirnya, OnePlus putus dengan AP. Tidak ada lagi unit review atau undangan gratis. Tidak ada lagi komunikasi.

So, menurut Anda, apakah untuk menjadi “flagship killer” suatu device harus berada pada kelas high-end dan memiliki spesifikasi teratas? Atau bisa dengan kriteria lain?