Posisi launcher Unity 7 di Ubuntu 16.04 LTS kemungkinan bisa diubah

Sejak Canonical memperkenalkan Unity sebagai shell/desktop Ubuntu yang baru, banyak pengguna terutama pengguna lama Ubuntu yang memprotes Unity karena tidak adanya pilihan untuk memindahkan launcher-nya. Sejak itu, muncullah semacam “Unity-hate” yang membuat sebagian pengguna Ubuntu pindah atau beralih ke distro lain. Sebagian lagi ada yang bertahan di Ubuntu tetapi menghapus Unity dengan shell/desktop environment lain, seperti Cinnamon, Mate, dan lainnya.

Namun sekarang tampaknya developer Unity sudah mulai melunak karena baru-baru ini terungkap bahwa seorang developer Unity telah mengijinkan fitur “rotate” di-merger ke Unity 7.
Continue reading “Posisi launcher Unity 7 di Ubuntu 16.04 LTS kemungkinan bisa diubah”

Apa itu Unity 8 dan Mir?

Unity adalah antarmuka bawaan untuk Ubuntu.

Unity 8 adalah versi berikut dari Unity yang dijadwalkan akan diluncurkan bersamaan dengan Ubuntu 16.10 pada Oktober 2016. Pada dasarnya Unity 8 tidak begitu berbeda dari Unity 7 yang saat ini bekerja dengan baik untuk desktop Ubuntu, namun salah satu perubahan utama yang dibawa Unity 8 adalah kemampuannya beradaptasi pada layar yang berbeda, yaitu pada desktop dan smartphone/tablet.

Jadi, dengan Unity 8, pengguna dapat menghubungkan smartphone/tablet yang bertampilan mobile ke monitor (dan mouse dan keyboard) untuk mendapatkan tampilan desktop. Unity 8 pada smartphone/tablet akan beradaptasi dengan layar monitor sehingga program yang ada di smartphone/tablet tersebut tetap bisa berjalan dengan lancar dari monitor. Konsep ini disebut sebagai convergence atau konvergensi, yang merupakan konsep awal pengembangan Unity sejak tahun 2010.

Mir adalah display server yang dikembangkan oleh Canonical untuk menggantikan X Window System di Ubuntu.

Dalam dunia Linux, display server adalah program pada sistem operasi GNU/Linux yang bertugas untuk mengkordinasikan input dan output dari pengguna ke sistem operasi dan sebaliknya. Dengan kata lain, display server adalah program yang membuat hardware dan program bisa berkomunikasi, dan menampilkan grafik di layar.

Mir dikembangkan secara khusus sebagai the next generation display server untuk menggantikan X di Ubuntu yang dianggap sudah tua. Mir dikembangkan untuk mengimbangi Unity 8 yang diharapkan mampu memberikan pengalaman penggunaan terbaik antar perangkat.

Ubuntu MATE resmi menjadi keluarga Ubuntu

Ubuntu MATE

Ubuntu punya “rasa” baru lagi, selain KDE, Xfce, LXDE, dan Ubuntu GNOME. Yaitu Ubuntu MATE. MATE adalah desktop environment (DE) yang dikembangkan sejak proyek GNOME 2 (DE pertama yang digunakan Ubuntu) dihentikan.

MATE awalnya diciptakan karena ketidaksukaan pengguna Ubuntu terhadap Unity yang dinilai sangat minim kostumisasi. MATE kemudian dikembangkan untuk meneruskan GNOME 2 dan mulai tersedia untuk pengguna Linux Mint mulai sejak tahun 2012.

Kini, dimulai sejak dirilisnya rilis 15.04 Beta 1, Ubuntu MATE sudah resmi dimasukkan ke keluarga besar Ubuntu. Ini artinya paket-paket untuk Ubuntu MATE akan masuk ke repositori resmi Ubuntu yang akan mempermudah pengguna untuk membuat Ubuntu MATE-nya up to date.

Selamat buat para developer dan pengguna Ubuntu MATE 🙂
Continue reading “Ubuntu MATE resmi menjadi keluarga Ubuntu”

Desktop Linux + Material Design

Bagaimana kalau Material Design “diterjemahkan” ke desktop Linux? Well, Quartz OS Quantum OS adalah jawabannya. Quantum OS adalah sistem operasi berbasis Linux (atau, sebut saja distro Linux) yang mengimplementasikan antarmuka Material Design.

Update:
Quartz OS berubah menjadi Quantum OS.

Quantum OS

Dari blog Quantum OS:

Welcome to Quantum OS! We are working on developing an operating system based upon Linux which conforms to Google’s Material Design guidelines.

Continue reading “Desktop Linux + Material Design”

Mencoba Chrome OS di Ubuntu

Chrome OS

Chrome OS adalah sistem operasi yang dikembangkan oleh Google yang berbasis pada Linux (open source). Chrome OS dirancang dengan tampilan yang sederhana dan ringan untuk pengguna yang sebagian besar pekerjaan komputasinya dilakukan dari browser web.

Tertarik ingin mencoba Chrome OS tetapi tidak ingin membeli Chromebook atau tidak ingin repot membuat LiveCD/USB? Jika Anda pengguna Ubuntu, Anda bisa dengan mudah mencoba Chrome OS dengan menginstallnya sebagai desktop environment.
Continue reading “Mencoba Chrome OS di Ubuntu”

On the state of Windows on the desktop

Sebuah parody (lebih tepatnya balasan) dari artikel yang dibuat oleh pengguna Windows yang berjudul “On the State of Linux on the Desktop“.

I didn’t want to commit and install a new operating system right off the bat. I just wanted to try it first. So I typed “Windows Live” in my browser’s search box to find a live version, preferably an USB image. Ok, so Windows Live wasn’t a live version of windows but some kind of service you must sign into. I guess it’s something like Ubuntu One. Not sure. Moreover, it turned out I’d have to actually buy it first before I could do anything with it. And there is not real live version of Windows 7.

Haha… Di Windows hanya ada “Do. Or Do Not. There Is No Try” 😉

It quickly become apparent that Windows has no package management to speak of. I had to actually go directly to software vendors’ websites and manually download, unpack, and install software.

So I was going to reboot, but then Windows decided it needed to install some “important updates”, and kept me starting at the shutdown screen for well over 10 minutes. Then it finally decided to was high time to reboot. But then… woah! Boot loader was gone. I couldn’t boot into Linux. What kind of bastard OS kills the existing bootloader? Totally insane!

Oops!!

Friend plugged his USB stick in, and… you are guessing. Yes! Windows had to install yet another set of drivers for the new stick. What on earth is wrong with that OS…

Plug… and pray.

And… finally

Someone has to rewrite all this crap. No LiveCD? No codecs? No software? No package manager?!?!?! Hello, this is like 2013, not 1993. I can’t even imagine what would have happened if I had to compile something from source. I have no idea where I would find a compiler…

I’m glad at least I didn’t pay for any of this shit. Or else I would have to convince myself that Windows was somehow superior to Linux so that I don’t feel bad about the money.

I’m back on Linux because it works. Period.

Pengguna Windows yang baru coba Linux bilang susah, komplain kiri-kanan? Wajar. Karena saat mereka menggunakan Linux yang ada di pikiran mereka (umumnya) itu adalah bagaimana Linux itu bertingkah seperti Windows, mereka maunya apa yang tersedia untuk Windows juga bisa digunakan untuk Linux. Setelah satu-dua fitur yang biasa mereka gunakan di Windows tidak mereka temukan di Linux, maka kesimpulannya cuma satu; Windows bagus, Linux jelek.

Sekarang kita balik. Bagaimana kalau pengguna Linux mencoba Windows?

LiveCD? Mount ISO? Package Manager? Terminal emulator? Dukungan file system selain NTFS?

Hilang…