Jailbreaking

Jailbreakin’ by Oliver Quinlan

Jailbreaking dan rooting pada dasarnya sama saja. Keduanya digunakan oleh orang-orang yang menginginkan kebebasan dan menentang sistem operasi standar mereka. Kedua istilah ini sangat populer pada perangkat mobile (smartphone/tablet). Bedanya, kedua istilah tersebut seringkali dikaitkan dengan platform yang berbeda.

Rooting adalah istilah yang umumnya ditujukan untuk perangkat-perangkat berbasis Android (root adalah hak akses tertinggi pada sistem operasi berbasis Linux), sedangkan jailbreak ditujukan untuk perangkat iOS (yang disebut iDevice) seperti iPhone, iPod touch atau iPad. Dan sebenarnya, pengguna iDevice juga memperoleh hak akses root ketika iDevicenya telah dijailbreak.

Kebanyakan orang berpikir perbedaan antara kedua istilah tersebut hanya sebatas istilah atau perbedaan jenis perangkatnya saja. Dan seringkali orang salah menyebut atau menukar kedua istilah tersebut. Namun secara teknis proses rooting dan jailbreak sama sekali berbeda.

Rooting adalah proses memperoleh hak akses root, hak akses tertinggi pada sistem operasi berbasis Linux. User root memiliki akses atas seluruh file system (UNIX). Dengan menjadi root, Anda dapat mengubah seluruh file pada sistem operasi. Sama halnya jika Anda menjadi akun Administrator pada Windows. Pada sistem operasi berbasis Linux, misalnya Ubuntu, untuk memperoleh hak akses root Anda bisa mengetik perintah sudo (super user do) atau su pada Terminal.

Jailbreak adalah proses memodifikasi perangkat lunak Apple (iOS) agar user/pengguna dapat mengakses file system UNIX secara keseluruhan, sama halnya dengan rooting.

Jadi, jailbreak sebenarnya adalah kombinasi dari proses keluar dari sandbox, rooting, proses menghindari ASLR, mem-patch kernel, dan untuk mengeksekusi kode-kode tertentu atau untuk menjalankan aplikasi yang biasanya tidak diijinkan oleh Apple (inilah alasan mengapa perilisan program jailbreak membutuhkan waktu yang cukup lama). Proses-proses tersebut tidak dibutuhkan pada Android, kecuali bagian memperoleh hak akses root nya.

Jailbreak sudah mencakup rooting. Tetapi Rooting tidak sama dengan jailbreak karena root adalah aspek penting dalam sistem operasi berbasis berbasis Linux. Ketika melakukan rooting pada Android, yang sebenarnya kita lakukan adalah mengaktifkan fungsi yang secara default telah di ‘soft’ disabled. Sedangkan pada proses jailbreak, kita (walaupun tidak selalu) diharuskan untuk memodifikasi bagian tertentu dari sistem operasi (kernel, dll).

Kedua konsep tersebut (jailbreak & rooting) sebenarnya bisa dipertukarkan bagi orang awam namun karena pengembangan Android bersifat open source, praktek keduanya tidak bisa disamakan pada sisi legalitas. Inilah satu alasan mengapa Apple melawan jailbreaking, dan mengapa beberapa OEM Android mengunci bootloader perangkat mereka, misalnya produk-produk dari Motorola atau HTC.

Kalau Apple mengunci iOS dan melawan jailbreaking untuk beberapa alasan, maka OEM Android mengunci bootloader (untuk membuka/melewati bootloader yang terenkripsi membutuhkan hak akses root) pada produk mereka untuk membuat pengguna membatalkan garansi mereka jika saja pengguna mencoba melakukan rooting (ingat Android bersifat open source, jadi bootloader adalah senjata dari vendor untuk pencegahan rooting).

Intinya, kalau Anda baru menggunakan iPhone atau Nexus selama dua hari, anggap saja kedua istilah tersebut sama. Walaupun lama-kelamaan Anda akan sadar sendiri perbedaan kedua istilah ini.