Sejarah 4G LTE

Yaay! ibu kota Indonesia sudah punya 4G LTE! (orang Indonesia yang tinggal di luar negeri, tolong, jangan ketawa). Meskipun sebenarnya tidak baru-baru amat karena rakyat Indonesia sudah mengenalnya lebih dulu, tetapi anggap saja baru karena teknologinya baru dirasakan di Jakarta Indonesia.

Niko, mungkin Twitter membatasi jawaban Anda, tapi terima kasih atas jawaban singkatnya.

Saya sendiri mau membahas sedikit soal 4G LTE.

2G, 3G

Dulu, kita mengenal yang namanya 2G dan 3G, lalu sekarang ada lagi 4G dan nanti akan ada 5G dan seterusnya. G di sini asalnya dari Generation atau generasi, yang berarti 3G adalah generasi ketiga dan 4G adalah generasi keempat.

2G, 3G, 4G dan seterusnya merujuk pada standar teknologi telepon seluler, yang sudah ditentukan oleh sebuah organisasi yang berhak menentukan definisi atau apa nama yang harus digunakan untuk kecepatan internet kita. Mereka juga yang menentukan teknologi apa dan kecepatan seperti apa yang diperlukan untuk layak dimasukkan dalam sebuah G baru.

Sebenarnya, 2G/3G/4G hanyalah istilah atau label untuk menunjukkan atau mengklasifikasikan tingkatan teknologinya, bukan istilah teknis untuk menunjukkan kecepatan dari suatu teknologi. Tetapi terkadang beberapa teknologi telepon seluler lebih mudah disebut demikian agar lebih mudah dimengerti dan menarik bagi orang awam. Yang penting Anda tahu adalah, semakin tinggi tingkatannya, semakin cepat akses internet yang Anda dapatkan.

Telepon seluler generasi awal adalah benda primitif. Belum ada istilah “1G” untuk mengklasifikasikan teknologi ini. Kemudian, ditemukan sebuah teknologi baru yang lebih baik dari sebelumnya yang membuat label 2G harus diciptakan, yang berarti muncullah 1G. 2G artinya generasi kedua alias generasi yang lebih cepat dibanding generasi pertama. 2G ini terbagi menjadi beberapa jenis teknologi, contohnya adalah GSM dan CDMA yang sudah Anda kenal.

Setelah 2G, muncul istilah baru yaitu “2,5G” (GPRS) yang kurang lebih memiliki arti “lebih cepat dari 2G tetapi lebih lambat dari 3G”. Lalu pada era sebelum 3G, kita juga mengenal teknologi EDGE yang sering disebut-sebut sebagai “2,75G”. Disebut demikian untuk membedakannya dengan GPRS (teknologi baru = nama baru).

Pada tahun 2000-an muncul 3G yang lagi-lagi memperkenalkan beberapa teknologi baru, frekuensi baru, dan kecepatan yang lebih tinggi. UMTS adalah salah satu teknologi yang termasuk ke dalam standar 3G. Sering orang mempertukarkan kedua istilah ini. Teknologi generasi ketiga atau 3G ini terus berkembang menjadi lebih cepat dan lebih cepat lagi, sehingga muncullah yang namanya HSPA (High Speed Packet Access) dan HSPA+.

Selanjutnya, muncullah 4G yang lebih rumit lagi.

Generasi ke-4

Kecepatan HSPA+ jauh lebih tinggi dibanding standar 3G biasa. Bahkan bisa dibilang kalau HSPA+ adalah puncak dari teknologi 3G. Hal ini membuat beberapa operator terutama di Amerika Serikat mengambil kesempatan dengan memasarkan layanan yang lebih cepat dari 3G biasa ini dengan nama yang lebih keren, yaitu “4G”. Di sinilah asal mula dari istilah 4G yang membingungkan.

Karena satu operator merasa layanan HSPA+ mereka jauh lebih cepat -dan yang paling utama adalah lebih baru dibanding standar 3G biasa dan mulai memasarkan layanan HSPA+ mereka sebagai “4G”, maka operator lain tidak ingin ketinggalan melakukan hal serupa, yaitu mempromosikan layanan “4G” sebagai layanan baru yang sebenarnya hanyalah HSPA+ yang tidak lain adalah 3G yang “terupgrade”.

Sekarang, banyak operator menyebut layanan internet cepat mereka sebagai 4G karena itu terdengar lebih baru, dan lebih memikat pelanggan yang artinya mendatangkan lebih banyak uang.

Di Amerika Serikat contohnya, layanan “4G” bisa berbeda kecepatannya tergantung operator yang digunakan. Ada yang menawarkan layanan 4G dengan kecepatan LTE, dan ada juga yang menawarkan layanan 4G dengan kecepatan internet HSPA+ saja, alias 3G yang telah “diupgrade”.

LTE

LTE adalah kepanjangan dari Long Term Evolution. LTE berjalan pada frekuensi yang berbeda dengan HSPA+, ini membuat perangkat yang mendukung teknologi ini membutuhkan hardware tambahan selain dari antena penerima jaringan 3G/4G biasa. LTE lebih kencang dibanding HSPA+, tentu saja, tetapi sebenarnya secara teknis LTE bukanlah 4G karena LTE belum memenuhi persyaratan untuk bisa dikategorikan sebagai 4G.

LTE cepat, tetap belum cukup cepat untuk sampai ke G berikutnya. Yang benar-benar dikategorikan 4G, alias “true 4G” adalah WiMAX (pesaing LTE), dan LTE Advanced (penerus LTE).

Halaman Wikipedia untuk yang penasaran:

Although marketed as a 4G wireless service, LTE (as specified in the 3GPP Release 8 and 9 document series) does not satisfy the technical requirements the 3GPP consortium has adopted for its new standard generation, and which were originally set forth by the ITU-R organization in its IMT-Advanced specification.

Lalu, kalau LTE saja belum 4G, mengapa sudah ada yang mengklaim memiliki layanan 4G?

Simple, marketing

4G is a term that mobile operators around the world are using to mislead their customers:

Around the world there are many mobile operators that are marketing LTE as 4G – despite the fact that LTE is not part of the 4G standard, but is in fact part of the 3G standard IMT-2000 that was created many years ago.

ITU-R, organisasi yang bertanggung jawab atas pemberian nama internet kita membolehkan operator untuk menyebut layanan HSPA+ dan/atau 3,999G mereka sebagai 4G, meskipun kecepatan dari layanan tersebut belum benar-benar memenuhi persyaratan untuk bisa disebut sebagai 4G. Dan tentu saja, label 4G laku diborong oleh operator seluler dan segera dipasang secara manis di halaman website mereka.

Dikutip dari PCMag.com:

Over the weekend the International Telecommunications Union (ITU) loosened its definition of 4G to include LTE, WiMax, and HSPA+.

“4G has taken on a meaning for mobile broadband consumers over the past few years—new, fast and offering richer content and more advanced services. This was largely driven by marketing rather than a technical or standards-based definition of 4G,” said a spokeswoman for 4G Americas.

dan tambahan dari Wikipedia:

However, due to marketing pressures and the significant advancements that WiMAX, HSPA+ and LTE bring to the original 3G technologies, ITU later decided that LTE together with the aforementioned technologies can be called 4G technologies

Jadi, penyebab LTE dan HSPA+ bisa dimasukkan ke kategori 4G adalah karena adanya marketing pressures dari operator.

Operator: Hai, layanan internet 3G kami sudah ditingkatkan dan sangat cepat dibanding 3G biasa, kami menamainya sebagai 3,999G. Sekarang, boleh kah kami menyebutnya sebagai 4G?
ITU-R: Tapi HSPA+ bukan 4G.
Operator: Oh.. please.
ITU-R: Hmm.. OK.

“4G LTE” adalah cara operator untuk menyebut layanan LTE-mendekati-4G mereka agar dapat dibedakan dengan 4G “abal-abal” alias 4G berkecepatan HSPA+ yang sudah terlalu sering dipakai operator lain, AKA sudah terlalu mainstream.

Dikutip dari Strandreports.com:

These people have chosen to call LTE 4G, despite LTE not being a 4G standard and regardless of the fact that they actually do know that LTE is not 4G. The only reason these people have chosen this misleading communication strategy is not to help customers understand what they are purchasing, but simply to increase their sales.

Singkatnya, ITU-R sudah menetapkan (memperlonggar aturan/definisi) kalau HSPA+ dan LTE boleh disebut sebagai 4G. Tetapi, karena menggunakan nama “4G” sudah tidak keren lagi, dan takut disalahartikan sebagai rebranding dari HSPA+, maka muncullah ide “4G LTE”.

3G (standar): kencang,
3G (HSPA): lebih kencang,
4G LTE: jauh lebih kencang,
4G: membingungkan.

Mengapa membingungkan? Karena saat kecepatan layanan internet baru beranjak dari 3G, operator sudah menyebut layanan mereka sebagai 4G, dan begitu kecepatannya baru mendekati true 4G, operator menyebutnya sebagai 4G LTE. Padahal baik dulu dan sekarang kecepatannya belum benar-benar berada di standar 4G.