Selama ini saya hanya menggunakan Bash kalau lagi buka Terminal di Ubuntu. Sebagai shell default, saya belum merasa perlu untuk menggantinya dengan yang lain. Tapi, gara-gara mengaplikasikan autocd di Bash, saya akhirnya berkenalan dengan sebuah shell lain, yang kata orang-orang lebih keren dari Bash.

Namanya, Z shell atau disingkat zsh.

Apa itu zsh, dan mengapa dikatakan lebih cool dari shell punya saya? Silakan lihat slide presentasi berikut ini.

Setelah membaca presentasi di atas, saya jadi tertarik menginstall zsh, yang caranya sangat gampang untuk Ubuntu:

Setelah menginstall zsh, Anda perlu menjadikannya sebagai shell default untuk Terminal Anda karena saat ini shell default masih Bash. Iya lah, kan shell itu bukan cuma satu, bukan cuma Bash saja. Shell UNIX itu banyak, dan Bash dan Zsh itu hanya beberapa diantaranya.

Caranya ubah shell ke zsh adalah dengan jalankan perintah ini:

Setelah itu reboot komputer Anda untuk menerapkan perubahan. Untuk pergantian shell ini memang sepertinya harus melewati proses reboot, karena proses tutup-buka Terminal saja tidak cukup.

Selanjutnya, mari kita buka Terminal untuk melihat hasilnya.

Tampilan awalnya seperti ini:
Zsh

Jangan panik, itu adalah tampilan awal saja. Kalau pusing bacanya, tekan q saja untuk quit, konfigurasinya bisa diatur belakangan kalau Anda sudah lebih mengerti. Tapi kalau ngerti English, Anda bisa mulai dengan menekan 1 dan ikuti instruksi selanjutnya, hingga selesai.

Oh ya, ini dia zsh. Shell yang aktif bisa dicek dengan perintah echo $SHELL dari Terminal:
zsh

Kalau di Ubuntu prompt nya seperti ini: [email protected]:~$, tetapi di zsh hanya seperti di atas, yang ada cuma ivan-laptop%, yaitu nama hostname dan “%”. Tapi tenang, toh ini masih bisa diubah sesuai kemauan.

Karena ini hanya coba-coba, jadi saya hanya tunjukkan beberapa kesukaan saya saja dari zsh. Salah satu yang saya suka adalah autocomplete directori yang seperti ini, lebih smart:

zsh

Pada Bash, kalau kita mengetik cd SpaceTab (perintah cd lalu spasi) maka yang muncul adalah daftar direktori saja. Sedangkan pada Zsh, setelah menekan Tab akan muncul autocomplete untuk direktori yang ada, tekan Tab lagi maka direktorinya beda lagi, dan seterusnya sampai rekomendasi direktorinya habis.

Selain itu, adanya autocomplete untuk path. Jadi, path atau direktori tujuan kita namanya bisa disingkat dengan huruf depannya saja, begitu kita tekan Tab maka pathnya akan diperpanjang. Kira-kira seperti gambar di bawah ini:

zsh

Jadi, untuk masuk ke direktori themes saya hanya perlu mengetik cd /u/s/the. Kalau nama direktori yang nama depannya cocok/ada dengan yang kita ketik, maka otomatis pathnya akan dikenali.

Sebagai contoh:
u akan dikenali sebagai usr, karena di dalam / yang namanya dimulai dengan “u” hanya usr saja. Begitupun dengan s, akan dikenali sebagai share. Untuk masuk ke direktori themes, saya perlu memanjangkannya sampai ke the. Ini karena direktori themes bukan satu-satunya direktori berawalan “t” atau “th” yang terdapat di dalam direktori /usr/share (setidaknya untuk di komputer saya). Seandainya saya hanya mengetik cd /u/s/t saja, maka zsh akan memberitahukan bahwa saya perlu mengoreksi nama direktori pada path “t”. Untuk “u” dan “s” tidak perlu lagi karena langsung dikenali.

Ya.. kira-kira begitulah. Postingan ini hanya perkenalan saja. Mungkin berikutnya saya akan bahas bagaimana dasar-dasar menggunakan zsh.

Oh ya, pengguna Windows juga bisa memakai WinZsh sebagai alternatif dari cmd.exe.